Tunggu sebentar!

Minggu, 05 Mei 2013

Pengaruh buruk teman

Perilaku beberapa anak memang buruk, namun lebih buruk lagi jika anak kita sangat ingin bermain dengan mereka. Daripada terus khawatir, yuk cari tahu cara menghadapinya.

Waktu saya masih duduk di kelas 4 SD, ada seorang anak tetangga yang selalu saja datang berkunjung setiap jam pulang sekolah, namanya Jaya. Kadang ia bermain sampai sore hari di rumah kami. Saya tidak pernah mengerti mengapa saat itu Mama selalu kelihatan tidak senang setiap Jaya datang. Yang saya tahu, Jaya selalu berteriak sebelum masuk ke rumah, lalu berlari di ruang tamu kami, bahkan main skipping sampai pernah memecahkan salah satu hiasan meja kesayangan Mama, dan masuk ke kamar saya tanpa izin. Sekarang, saya baru bisa mengerti sikap Mama.

Dari seluruh daftar panjang tentang "Hal-hal yang diketahui sebelum punya anak", ini adalah salah satu hal yang perlu ditambahkan: Bagaimana jika anak kita mempunyai teman yang jujur saja?

Maya Damayanti, mama dari dua anak di Rawamangun  mengaku sangat sedih ketika harus merasa sebal terhadap anak kecil. "Rasanya nggak mungkin ada anak seusia anak saya sendiri yang begitu nakal dan tidak tahu aturan, tapi hal ini benar-benar terjadi. Seorang teman anak saya sering melakukan hal-hal yang 'jahat' terhadap anak lainnya, misalnya merebut mainan dengan paksa sambil mengancam. Seharusnya dia tidak begitu".

Buat saya sendiri, jangankan anak manusia, anak macan tutul saja masih terlihat lucu dan menggemaskan saat usianya makin kecil, padahal mereka adalah hewan liar dan buas jika telah dewasa. Pasti rasa tak senang pada anak tertentu membuat orang dewasa manapun tidak nyaman. Tetapi pasti ada alasan kuat mengapa perasaan itu muncul, seperti anak-anak yang berkata atau berperilaku kasar, senang memaki, mengancam dll. Ada pula yang meski bersikap normal, membuat hidup orang lain 'menderita'.

 Pengaruh buruk teman si kecil

Hal ini tentu saja akan semakin menarik saat anak beranjak remaja. Lingkup pergaulan mereka tidak lagi hanya sebatas play ground. Ia juga sudah memasuki pergaulan dunia maya seperti SMS, e-mail atau media sosial. Daya tangkap anak terhadap teknologi memang sangat cepat, sehingga sangat sulit untuk orang tua meredamnya. Hal yang paling penting adalah bagaimana membuat anak tahu apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Kali ini, cara kita akan berbeda dengan cara mama kita dahulu. Kita perlu berlatih untuk memilih kapan membiarkan ia mengatasinya sendiri dan kapan harus turun tangan secara tegas.

SIPEMBUAT ONAR
Kristy Harun seorang mama di Serpong yang punya dua anak laki-laki, Daniel (9) dan Rio (13) menyampaikan kekhawatirannya, "Daniel mempunyai seorang teman yang berkelakuan buruk. Ucapannya kasar dan sikapnya sering tidak sopan. Penampilannyapun 'berantakan', semaunya saja. Puncaknya, saat mereka sedang duduk di depan rumah bersama ayah Daniel, temannya itu melemparkan kerikil ke arah mobil yang lewat. Daniel pun otomatis ikut-ikutan. Saat suami saya memarahi keduanya, Daniel kelihatan malu dan menyesal, sedangkan temannya tertawa-tawa. Mengesalkan sekali, bukan?"

Walaupun selama ini Kristy memilih tidak ikut campur, melihat kekesalan suaminya ia pun melakukan tindakan yang perlu. Ia memutuskan bahwa sejak saat itu Daniel tidak boleh lagi bermain dengan anak itu. Pertemanan diputuskan. Rita bergeming meski orangtua teman Daniel itu sudah meminta maaf dan minta agar anaknya boleh main dengan Daniel.

Kristy dan suami melakukannya tanpa diketahui Daniel dan tanpa harus mendatangi kedua orang tua teman anaknya ini. Kristy memprioritaskan kepentingan Daniel dan mengajaknya berkenalan dengan teman-teman lain yang seusia sehingga Daniel tidak terlalu merasa 'kehilangan'. Kristy menjelaskan pada Daniel bahwa menyenangkan orang lain adalah perbuatan baik, tapi menyenangkan orang yang suka melanggar aturan adalah perbuatan yang akan membawa kita pada masalah.

Punya anak perempuan bukan berarti lebih aman, lho. Seperti diceritakan Ariana Sitta yang tinggal di Pondok Labu tentang teman putrinya yang entah mengapa selalu terlihat lebih dewasa dari usianya. Pernah pada suatu kesempatan, anak itu mengajak putrinya menari-nari. Tapi saat diperhatikan, 'tarian' yang dimaksud lebih mirip tarian panas Britney Spears di video klip terbarunya daripada tarian anak-anak. Ariana begitu kaget, tetapi mencoba tenang setelah melihat puterinya sendiri bingung melihat temannya. Keluarga Ariana tidak memutuskan dengan keluarga anak tersebut, karena masih ada sisi-sisi positif lain yang ia miliki. Namun setiap puterinya bermain dengan teman ini, ia selalu mengawasi dengan ketat apa yang mereka lakukan atau tonton. "Untungnya, tidak lama kemudian keluarga anak itu pindah dari lingkungan kami", ungkap Ariana, lega.

Lain lagi yang dialami keluarga Dewi Rahma di Surabaya, dengan teman puteri semata wayangnya, Lira 12 tahun. Dewi memilih untuk memiliki satu anak saja dengan alasan 'tidak cukup sabar menghadapi lebih dari seorang anak di dalam rumah'. Jadi setiap teman-teman Lira berkunjung ke rumah, Dewi merasa memerlukan oksigen. "Namanya anak-anak perempuan berkumpul, pastilah heboh", cerita Dewi. Dewi memilih untuk mengikuti saja selama yang dilakukan anak-anak itu masih dalam batas wajar.

SULIT DIATUR
Ini cerita saya pribadi. Ketika itu anak-anak saya masih kecil dan saya diminta menemani kakak saya Rita di rumahnya karena teman-teman keponakan saya (usianya 9 tahun) akan menginap. Diantara 7 anak perempuan yang menginap, ada seorang yang benar-benar membuat seisi rumah capek. Tidak, dia tidak nakal, tidak sembarangan, tidak merengek atau apapun. Justru sikapnya sangat manis, tetapi selalu saja berlawanan dengan yang menjadi pilihan bersama. Saat semuanya setuju disiapkan menu sop daging untuk makan siang, dengan manis dia mengatakan "Bolehkan kalau aku mau ayam goreng?" Ketika yang lain otomatis bergantian mandi bersama dengan air dingin karena memang cuaca cerah, dia hanya mau mandi dengan air hangat (dimana waktu itu water heater kami sedang rusak, sehingga harus memasak air dulu). Atau saat tidur malam bersama dia mati-matian meminta lampu dinyalakan, sementara yang lain ingin tidur dengan lampu padam.

Langkah yang diambil kakak saya setelah itu adalah lebih memfokuskan anaknya pada pentingnya kompromi. Selain juga ikut menyeleksi teman-teman sepermainannya dan untuk sementara waktu meniadakan acara menginap di rumah.

Pengalaman lainnya diceritakan Titin Ratnamustika, mama dari dua anak pra-remaja di Jatiwaringin. "Ada salah satu teman anak saya yang sangat suka bicara. Bicaranya lantang dan kadang kata-katanya menyakitkan hati. Anak saya sering kelihatan kesal, tapi mereka tetap main bersama. Pernah kami ajak dia piknik bersama, dan dia tidak pernah berhenti selama di perjalanan. Bahkan dia mengatakan sesuatu, mencela anak saya dengan suara kerasnya. Karena anak saya diam saja, kami juga tidak ikut campur. Tapi lama-lama kami tidak lagi melihatnya datang ke rumah. Rupanya dengan berjalannya waktu, mereka mengalami banyak ketidakcocokan dan persahabatan itu pun bubar dengan sendirinya. Kami sempat merasa tidak enak dengan orang tuanya karena sebelumnya cukup dekat".

Ini contoh bahwa kadang-kadang dalam menyelesaikan persoalan pertemanan seperti itu tidak diperlukan intervensi orang tua. Anak bisa mengetahui mana yang cocok untuk dirinya sendiri.

LANGSUNG TEGUR SAJA
Meski sudah berusia lebih dari tujuh tahun, tetap saja anak-anak sering bersikap polos. Reina Savitri menceritakan tentang teman anaknya yang selalu saja tertawa setiap mendengar (atau melihat) putrinya, Raiya bicara. Raiya memang memiliki hambatan berbicara, sehingga berbicaranya terbata-bata (gagap). "Temannya selalu saja mengikuti cara berbicara Raiya dan menertawakannya. Saya sedih sekali, karena Raiya kelihatan malu", ujar Reina.
Reina berbicara pada teman Raiya beberapa kali dengan berbagai pendekatan. Mulai dari "Setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam berbicara", sampai yang paling keras, "Mengejek itu membuat teman tidak senang, kamu mengerti, tidak?" Ternyata, kata-kata terakhir itulah yang membuatnya berhenti mengejek Raiya. Tidak ada yang pernah memberitahu bahwa ejekannya membuat temannya tidak senang.

Tentang kepolosan anak-anak ini, Trisna Suwandi yang memiliki tiga orang anak mempunyai pengalaman lain. Saat itu, salah satu puterinya, Tisya (8), 'bermasalah' dengan seorang anak yang sudah menjadi temannya sejak ia berusia empat tahun. "Tiba-tiba saja temannya tidak mau lagi bermain dengannya. Mungkin hanya karena sedang ingin bermain dengan anak lainnya. Repotnya, anak saya berpikir ada yang salah dari dirinya sehingga tidak ditemani. Ini membuatnya menjadi anak yang murung dan pendiam", cerita mama dari Malang ini. Trisna berusaha mengatakan pada Tisya bahwa masih bayak teman di luar sana yang jauh lebih baik dari temannya ini, bahwa temannya mungkin sedang punya masalah yang tidak ingin dibagi, dan masih ada belasan bujukan lainnya. Namun Tisya tetap saja merasa sedih.

Dalam hal ini, orang tua sangat perlu menemani anak karena rasa dikesampingkan yang apabila dibiarkan akan menimbulkan kesedihan yang berkepanjangan. Bagaimana menghibur dan meningkatkan kepercayaan diri anak bahwa dirinya teman yang baik, bahwa ia bisa menemukan teman yang lain yang juga menyayanginya, adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua.

Salah satunya, kita  dapat mengajak diskusi orang tua teman anak yang 'bermasalah' tersebut. Bukan untuk menyalahkan atau menyudutkan, melainkan untuk mendapatkan penyelesaian yang terbaik bagi semua pihak. Daripada mengatakan "Orang tua macam apa yang anaknya sering bersikap tak sopan dan kasar?" Lebih baik katakan "Untuk membantu anak-anak kita menyelesaikan masalah mereka, kami mengajarkan pada anak kami bagaimana menjadi teman yang menyenangkan. Yuk sama-sama mencoba!" Harapannya, diskusi ini akan berjalan baik.

Meski Anda menilai beberapa teman berpengaruh buruk terhadap anak Anda, belum tentu anak juga merasa ketidaknyamanan ini. Selama anak kita happy, mestinya kita bisa melihat pertemanan mereka sebagai bagian dari cara belajar bersosialisasi. Bagaimanapun juga, saat setelah dewasa nanti mereka mesti siap bertemu dan berinteraksi dengan berbagai macam orang dengan karakter yang berbeda-beda pula, kan? Nah, sebagai orang tua, sudah tugas kita untuk menyadari posisi kita dalam setiap situasi. Apakah disamping, didepan atau dibelakang anak. Tersenyumlah, Ma...!


Keyword: tips memilih teman yang baik | tips memilih teman buat anak | memilih teman yang baik | cara memilih teman yang baik | membedakan teman yang baik dan yang jahat

A PREGNANCY (TENTANG KEHAMILAN)
1. Hati-hati, ini dia yang harus Anda waspadai selama hamil
2. Tetap segar dan cantik meskipun hamil
3. Agar tetap bugar meskipun sedang hamil
4. Prolactinoma dan kehamilan
5. Bagaimana janin berkembang
[More...]
B PARENTING (MENJADI ORANG TUA)
1. Pentingnya lemak esensial untuk tumbuh kembang anak
2. Pengaruh buruk teman
3. 9 fakta kesehatan jaman dulu dan sekarang
4. Tips: membantu anak kikuk bergaul [sosialisasi anak]
5. Manfaat mendongeng sebelum anak tidur
[More...]
C WANITA (SEPUTAR PERMASALAHANAN WANITA)
1. Pahami masa subur
2. Memanjakan diri pasca nifas via spa vagina
3. Hamil diatas usia 35 tahun, pahami resikonya
4. Adakah masalahnya kedepan jika menunda-nunda jadi ibu?
5. Teknologi untuk merancang jenis kelamin
[More...]
D TEKNOLOGI
1. Inovasi Irigasi Untuk Masa Depan Yang Berkelanjutan
2. 10 Teratas Kemajuan Israel Dibidang Medis
3. Microresonator (Mengirimkan 40 Saluran Komunikasi dengan Satu Laser)
4. Cara memurnikan air limbah hanya menggunakan tanaman
5. Aplikasi Penghitung Sisa Hari Dalam Setahun (The Rest Of The Year)
[More...]
D SOURCE CODE VISUAL BASIC 6.0
1. Visual Basic Source Code (Transfer teks dari form ke ms-word)
2. Visual Basic Source Code (sysinfo atau informasi sistem komputer)
3. Visual Basic Source Code (software pembalik kata)
4. Visual Basic Source Code (software pengeja kata)
5. Visual Basic Source Code (IP tools)
[More...]
E KULINER (RESEP MASAKAN)
1. Resep Membuat Sambal Tuktuk khas Batak Toba
2. Cara Memasak Dali Ni Horbo
3. Resep Membuat Mie Gomak Medan
4. Resep Masakan Na Tinombur
5. Resep ayam napinadar
[More...]
F DESIGN & ART DENGAN ADOBE PHOTOSHOP CS
1. Efek Teks Fantastis menggunakan Photoshop (Teks Mosaic)
2. Efek Teks Fantastis menggunakan Photoshop (Teks Bergambar)
3. Efek Teks Fantastis menggunakan Photoshop (Teks Puding)
4. Efek Teks Fantastis menggunakan Photoshop (101 Dalmatians)
5. Efek Teks Fantastis menggunakan Photoshop (Teks Cut Out)
[More...]
G BELAJAR BAHASA INGGRIS SEHARI-HARI
1. A Break (Waktu Istirahat)
2. A conversation With A Stewardess (Percakapan Dengan Pramugari)
3. A New Neighbour (Tetangga Baru)
4. A New School Building (Gedung Sekolah Baru)
5. A Talk With A Stewardess (Percakapan Dengan Pramugari#2)
[More...]
H EFEK QUERY DARI MESIN PENCARI
1. Efek Dari Kombinasi Kata Kunci Pada Mesin Pencari#1
2. Efek Dari Kombinasi Kata Kunci Pada Mesin Pencari#2
3. Efek Dari Kombinasi Kata Kunci Pada Mesin Pencari#3
4. Efek Dari Kombinasi Kata Kunci Pada Mesin Pencari#4
5. Efek Dari Kombinasi Kata Kunci Pada Mesin Pencari#5
  [More...]