Mengatasi Susah Buang Air Besar Pada Bayi

Mengatasi Masalah Susah Buang Air Besar Pada Bayi

Tentu tak ada orang tua yang senang melihat bayi mereka sakit. Nah, ternyata buang air besar (BAB) yang kurang lancar merupakan tanda bahwa bayi kita kurang sehat.

Menurut Jennifer Shu, M.D., dokter anak dan penulis buku Food Fights: Winning The Nutritional Challenges of Parenthood Armed with Insight, Humor, and A Bottle of Ketchup, “Jika BAB bayi lancar dan teratur, berarti ia mendapat asupan makan yang cukup, dan membuang kelebihannya.” Maka tak heran jika orang tua malah kerap merasa khawatir, begitu bayi tidak BAB. Jangan-jangan, ia mengalami konstipasi atau sembelit. Untuk memastikan hal itu, mari kita kenali gejala dan penyebabnya, serta cara mengatasinya.

Tanda-Tanda Bayi Yang Mengalami Sembelit 
Satu hal yang penting Mama ingat, jadwal BAB bayi memang tidak sama satu sama lain, baik yang diberikan ASI eksklusif maupun susu formula. Beberapa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif BAB sesaat setelah disusui, sementara yang lain, bisa saja tidak BAB selama 1 minggu, bahkan lebih lama lagi, kata dr. Shu. Begitu juga yang mendapatkan susu formula.

“Untuk bayi-bayi yang mendapatkan ASI, cek konsistensi tinja atau kotoran mereka untuk memastikan apakah mereka mengalami konstipasi atau tidak. Jika konstipasi, maka kotoran mereka akan menyerupai bola-bola tanah liat kecil, bukannya lembek, berair, serta berbiji-biji,” ungkap Jane Morton, M.D., profesor klinis pediatric di Stanford University of Medicine, Amerika Serikat. “Tetapi biasanya, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sangat jarang mengalami konstipasi.”

Dan begitu bayi telah mengonsumsi makanan padat atau MPASI (makanan pendamping ASI), Anda sebaiknya juga harus bersiap-siap mengalami perubahan pada frekuensi BAB bayi, serta bentuk maupun warna kotorannya. Sebagai patokan frekuensi, bayi berumur 0-4 bulan rata-rata BAB sebanyak 3-4 kali dalam sehari, dan setelah mendapatkan makanan padat, jumlah itu berkurang, menjadi sekitar sekali BAB per hari.

Selain frekuensi BAB, perhatikan juga warna kotorannya. Jika sampai usia 5 hari, kotoran bayi saat BAB tidak juga berwarna kuning terang, melainkan cokelat tua atau hijau, maka kemungkinan ada sesuatu yang tidak beres. Dan hal itu bisa dialami oleh bayi yang diberikan ASI maupun susu formula, ungkap dr. Morton. Penyebab hal itu biasanya adalah bayi tidak mendapatkan asupan yang cukup.

Tanda lain bayi mengalami konstipasi adalah ia kesulitan mengeluarkan kotoran dari anusnya, sehingga harus mengejan kuat-kuat. Akibatnya, dinding anusnya bisa meregang, sehingga menyebabkan perdarahan, dan ada sedikit darah di kotorannya. Coba perhatikan wajahnya saat mengejan, Ma. Kalau ia tampak kesakitan, dan perutnya teraba keras/kembung, maka bisa jadi ia mengalami konstipasi. Selain itu, ia juga rewel dan menolak makan. Tentu saja, kalau tidak ada yang dikeluarkan, bayi akan merasa tidak nyaman sehingga tidak mau menelan apa pun, kata dr. Shu

Penyebab Susah Buang Air Besar/Sembelit 
Menurut dr. Morton, umumnya bayi-bayi yang diberikan susu formula akan lebih sering mengalami konstipasi. Hal itu karena susu formula lebih sulit dicerna oleh bayi ketimbang ASI, dan menyebabkan kotoran bayi juga lebih keras, tambah dr. Shu. Alergi protein susu sapi atau intoleransi laktosa juga bisa menyebabkan bayi Anda mengalami sembelit. Jika bayi Anda mengalami intoleransi laktosa, sebaiknya jangan berikan ia susu formula, Ma, begitu juga yoghurt dan keju ketika ia sudah bisa mengonsumsi makanan padat. Dan jika bayi Anda minum ASI, Anda pun harus menghindari makanan dan minuman yang mengandung susu sapi tersebut, karena bisa diteruskan melalui ASI.

Makanan yang dikonsumsi bayi setelah ia berumur 6 bulan pun akan berpengaruh besar terhadap kotorannya saat BAB, kata dr. Shu. Dan beberapa makanan, yang jika dikonsumsi terlalu banyak, bisa memicu konstipasi pada bayi, seperti puree apel, pisang, dan sereal, terutama sereal berbahan baku beras. Begitu si kecil sudah berusia 1 tahun dan boleh mengonsumsi table food atau makanan yang biasa dimakan oleh orang dewasa, akan lebih sulit lagi mencari penyebab konstipasi yang ia alami.

Cara Mengatasi Susah Buang Air Besar/Sembelit 
Mengurangi volume susu yang diminum bayi, serta mengubah asupan makan Anda bisa mengatasi sembelit pada si kecil. Makanan padat, yang sering menjadi penyebab konstipasi, ternyata juga bisa menjadi ‘obat’ bagi sembelitnya, kata dr. Shu. Misalnya, beberapa jenis buah dan sayuran, antara lain pir dan brokoli, serta jus buah maupun air putih.

Dan jika perubahan pola makan/minum tersebut tidak berhasil mengatasi konstipasi si kecil, segeralah berkonsultasi ke dokter anak. Biasanya, dokter akan menyarankan untuk dilakukan stimulasi pada rektal (anus) dengan menggunakan cotton bud (penyeka kapas) atau termometer anus. Metode tersebut bisa memicu pergerakan usus beberapa menit kemudian, kata dr. Shu. Atau, bisa juga diberikan supositoria gliserin. Satu jam setelah pemberian itu, umumnya bayi akan bis BAB, kata dr. Shu. Pencahar juga bisa diresepkan oleh dokter, seperti MIralax, yang berbentuk bubuk dan bisa dicampur dalam minuman; atau laksatif berbahan baku sayuran yang alami; serta laktulosa atau gula tidak terserap, yang banyak digunakan untuk mengatasi konstipasi.

 

 Keyword: Penyebab Susah Buang Air Besar/Sembelit Pada Bayi | Mengatasi Susah Buang Air Besar/Sembelit Pada Bayi | Penyebab Susah Buang Air Besar/Sembelit Pada Bayi